Meski Sudah Waktunya, Menjadikan Pertanyaan “Kapan Nikah” Sebagai Pendorongmu Menikah Bukanlah Suatu Pertimbangan Yang Layak Diikuti. Karena Menikah Bukan Masuk Kategori Lomba Cepat - Cepatan - Sheika Hijab

Meski Sudah Waktunya, Menjadikan Pertanyaan “Kapan Nikah” Sebagai Pendorongmu Menikah Bukanlah Suatu Pertimbangan Yang Layak Diikuti. Karena Menikah Bukan Masuk Kategori Lomba Cepat - Cepatan

7 bulan yang lalu    
Meski Sudah Waktunya, Menjadikan Pertanyaan “Kapan Nikah” Sebagai Pendorongmu Menikah Bukanlah Suatu Pertimbangan Yang Layak Diikuti. Karena Menikah Bukan Masuk Kategori Lomba Cepat - Cepatan

 

 

Sudah menikah? tentu tugas selanjutnya adalah saling mencocokan diri hingga usia kebersamaan dalam keluarga kecil itu sampai ujungnya, sebagaimana yang Alloh takdirkan durasinya.

 

Bagaimana denganmu yang masih setia dengan kondisi lajangnya?

 

Bayangan gempuran pertanyaan kapan nikah menjadi bumbu setiap pertemuan dengan kawan sebaya, rekan kerja, partner berbisnis, saat pertemuan alumni, kumpul keluarga besar hingga momen bertemu dengan basa basi emak - emak yang terkadang remnya blong.

 

# Masih Sendiri Di Usia Yang Sudah Semestinya Berdua Duduk Di Pelaminan Memang Bisa Menjadi Drama Yang Lebih Membatin Dari Sinetron India

 

Menyimak Sabda Rasululloh shollollohu ‘alaihi wa sallam,
“Tidak diketahui (yang lebih bermanfaat) bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan”

**(1)

 

Pembelajaran yang sudah jelas indahnya pada Sabda Nabi tersebut. Tidak ada yang paling indah antara dua insan saling mencintai selain pernikahan, apalagi jika dilakukan untuk menyempurnakan Ibadah kepada Alloh Ta’ala. Namun, saat takdir Alloh belum mengizinkan bertemu dengan pendamping yang akan menua bersama, janganlah membuatmu menjadi bersedih.

 

Omongan perawan atau jejaka tua, sulit laku, tak bahagia dan jomblo ngenes alias jones hanya layak diabaikan.

 

Hal baik yang semestinya dilakukan adalah tetap mengikuti kajian yang membuatmu menjadi manusia lebih baik, berkumpul dengan orang - orang yang memberi pengaruh membaikan dan tetap membuka komunikasi baik dengan siapapun, tapi tetap menjaga diri dalam berkomunikasi. Jangan sampai betah menyepi berdua di ruang chat, panggilan suara dan ruang video call, apalagi kalo berduaan secara langsung, hindari ya.

 

# Menikah, Tentang Menyatukan Dua Rombongan Keluarga, Bukan Sekedar Dua Insan Yang Ingin Membuktikan Cinta Semata

 

Konsekuensi sebuah pernikahan membuatmu berada dalam kondisi terus menerus membangun kesepakatan - kesepakatan bersama. Semisal bagaimana kebersamaan berdua itu bisa menjaga hubungan baik dan tetap berbakti pada orang tua.

 

Sebab itu jangan sampai menikah dengan keterpaksaan, apalagi menikah karena terbebani omongan - omongan selintas “kapan nikah” yang tanpa kompromi. Sepakat menikah berarti siap dengan sepaket jatuh bangunnya perjalanan hidup bersama.

 

Jika sudah siap nan mampu, menikahlah. jika belum, bersabarlah. Tanamkan pesan Nabi ini,

“Wahai sekalian pemuda, apabila kalian mampu (lahir dan batin) untuk menikah, maka menikahlah. Hal tersebut akan menjaga pandangan dan kemaluan. Namun, bila kalian belum mampu berpuasalah. Karena di dalam puasa tersebut terdapat pengekang”

(Muttafaqun ‘Alaihi)

 

# Umur 27 Kebawah Memang Usia Yang Pas Nan Produktif Untuk Pernikahan, Tapi Kamu Menikah Untuk Menyempurnakan Ibadah Dan Berbahagia Bukan?

 

Bagi perempuan, usia 20an diidentikan dengan usia yang matang dan selayaknya mempunyai keturunan. Banyak manusia yang sepakat, pernikahan memang diharapkan memberikan generasi penerus dan membangun keluarga yang saling membahagiakan serta saling mendukung.

 

Namun, tidak hanya kondisi diri yang semestinya sudah siap secara mental, tapi adakalanya takdir Alloh yang memang belum mengizinkan. Selama tetap berupaya mencari menjodoh dengan mencari dan menunggu, pribadi terhormat dan percaya diri tetap layak kamu sandang, selama ketaatan pada Alloh masih tetap menjadi pondasi utama.

 

# Ingat Ini, Jangan Jadikan Alasan Menikah Hanya Untuk Mengisi Kesepian Hati. Karena Kekosongan dan Kesepian Hati Bisa Saja Menghampiri Meski Pernikahan Sudah Terjadi.

 

Adanya sahabat setia yang membersamai menua disisi tak menjamin kesunyian hati itu lantas pergi. Memang, dengan memutuskan menikah muncul teman ngobrol semalam suntuk, tapi kesepian hati bukanlah alasan yang bijak untuk menikah.

 

Sepinya hati muncul sebab kurangnya koneksi dengan dunia luar dan kurangnya kedekatan dengan Sang Pemilik Hati. Isilah pikiran dengan hal - hal yang baik dan ajaran agama islam yang menghangatkan hati. Tak lupa, resapi pula ibadah rutin sehari - hari. Mungkin saja hati sepi karena ibadah yang dijalani memang masih “asal menjalani”, menjalani sebatas menunaikan kewajiban tanpa diresapi dan dimaknai Ibadah yang dilakukan.

 

# Menikahlah Dengan Penuh Keyakinan dan Kesungguhan Untuk Menyempurnakan Ibadah

 

Adakalanya sebagian orang tersudutkan dan selalu didesak agar segera menikah oleh keluarga. Disinilah perlu komunikasi yang baik dan terbuka, sabar menjelaskan bahwa bukannya tidak mau segera menikah, tapi apa yang dijalani belum menunjukan jalan menuju pelaminan.

 

Ingatkan juga, membandingkan kehidupan yang masih lajang dengan yang sudah menikah bukanlah hal yang bijaksana. Menikah itu semestinya dengan kebulatan hati dan kemantapan tekad, karena menikah itu keputusan panjang, bukan ajang perlombaan dengan yang lain.

 

Menikahlah dengan kesungguhan, menikahlah dengan keputusan diri, menikahlah untuk mengejar ridho Ilahi Rabbi.

.

.

.

.

Catatan :

(1)

HR. Ibnu Majah no. 1847, Al-Hakim 2/160, Al-Baihaqi 7/78 dishahihkan oleh Al-Albani dalam As- silsilah As-shahihah no. 624




Komentar Artikel "Meski Sudah Waktunya, Menjadikan Pertanyaan “Kapan Nikah” Sebagai Pendorongmu Menikah Bukanlah Suatu Pertimbangan Yang Layak Diikuti. Karena Menikah Bukan Masuk Kategori Lomba Cepat - Cepatan"