Ku Tuliskan Harapan Ini Untuk Suamiku (Nanti) - Sheika Hijab

Ku Tuliskan Harapan Ini Untuk Suamiku (Nanti)

7 bulan yang lalu    
Ku Tuliskan Harapan Ini Untuk Suamiku (Nanti)

Duduk diatas sejadah, ku bayangkan dirimu hadir dalam setiap surat yang berisi doa - doa yang ku kirimkan langsung kepada Alloh Penggenggam takdir kebersamaan kita.

 

Membayangkan sosok dirimu selalu ku coba saat senggang. Mustahil memang mengenali sesuatu yang masih misteri, meski hati ingin segera menemukan Sosokmu.

Meletakan kepalaku didekat bahumu menjadi sesuatu yang ku nantikan.

 

# Sebelum Takdir Alloh Membuat Kita Bertemu, Izinkan Aku Mensyukuri Keberadaanmu Lebih Dulu

 

Saat teh manis nan hangat mulai masuk menyentuh lidahku, selintas pikiranku membangun sebuah cerita sendiri tentang pertemuan kita. Pertemuan yang akan romantis, lucu, dingin, emosional atau malah kamu adalah seseorang yang sudah sekian kali bertemu denganku? Aku tak tahu. Bagaimanapun keadaan saat titik temu takdir itu hadir, harapku kelak kita bersama dengan rasa saling menemukan.

 

Hingga menyadari bahwa kebersamaan kita adalah akhir pencarian, dan mengiyakan bahwa hadirku menjadi cukup buatmu. Bersyukur bahwa Alloh telah memasangkan kita dalam kondisi terbaik.

 

# Diri Yang Tak Sempurna Berbuat, Tentunya Banyak Kekuranganku Yang Akan Hadir Didepan Matamu

 

Ada sedikit bayang - bayang yang bermain di pikiranku. Kendala - kendala yang ku harapkan tidak menjadi beban atau keadaan yang membuatmu kecewa, menjadi tak betah serumah. Ketahuilah, aku bukanlah seseorang pendamping yang serba bisa.

 

Keasinan atau kemanisan saat hidangan keseharian ku siapkan di awal hari atau di penghujung pulangmu dengan membawa lelah semoga tak menjadikanmu kecewa. Tapi aku percaya caramu memberi semangat dan mencairkan suasana dengan senyuman disertasi candaanmu,

 

“Ini enak kok, kurangi dikit bumbunya aja ya sayang.”

 

Tanpa protes kemudian memarahiku, kau malah mengusap kepalaku dan mengecup keningku, lalu mengucapkan terima kasih.

Bisa saja kamu pergi ke jajanan di pusat keramaian yang selalu menawarkan kualitas makanan yang enaknya membuatmu habis melahapnya.

 

“Sayang, terima kasih atas pengertianmu untuk menjaga dan menghargai upayaku.”

 

# Kewajibanku Dirumah Akan Selalu Aku Bereskan, Tapi Harapku Kau Mau Berbagi Tugas Saat Kita Hidup Bersama

 

Bukannya tak ikhlas menerima kesibukan di rumah, aku mampu membereskan urusan - urusan dirumah. Tapi, ada beberapa hal yang memang akan lebih mudah kamu kerjakan dibandingkan aku yang mengerjakan. Semoga setiap permintaan tolong yang ku ucap bisa disambut dengan kehangatanmu untuk segera membantu.

 

Membagi tanggung jawab bukankah sesuatu hal yang menyenangkan? Apalagi jika itu kerjakan bersama - sama dengan rasa syukur.

 

Aku tak bermaksud menyinggungmu dengan ajaran islam yang kita anut, yang jelas mengajarkan bahwa sebaik-baiknya orang beriman adalah yang paling baik terhadap istri atau keluarganya. Namun, aku berharap bisa saling mengerti dan bahu membahu membangun kehidupan baik nan sehat bisa kita lakukan berulang tanpa menunjukan siapa yang paling berkuasa.

 

# Ketika Berbeda Pandangan Yang Menyebabkan Pertengkaran Terjadi, Besar Atau Spele Masalahnya, Ingatlah Pesan Diawal Kita Bersama

 

Menjadi kekhawatiran dan sepenggal perjalanan yang selalu ada saat dua pikiran berada dalam satu ruangan. Pertentangan ataupun perbedaan akan menjadi bahasan yang tak terelakan.

 

Perbedaan aktifitas didalam dan diluar rumah salah satunya akan menjadi pembahasan sederhana tapi bisa menjadi sumbu emosi. Aku tak tahu siapa yang akan lebih dulu membentak dan menunjukan ekspresi monsternya.

 

Akan tetapi, keputusan kita bersama yang awalnya memang dibalut rasa cinta, diharapkan rasa cinta tetap hadir saat perbedaan pandangan itu berbenturan. Karena cinta bukanlah hitungan papan skor yang menunjukan siapa yang menang dan kalah.

 

Apabila terjadi nanti, saat titik beban hatimu yang mencapai ujung lelahnya dengan masalah dalam keluarga, ingatlah ini, Alloh tak mungkin menakdirkan dengan memudahkan jalan manjalin ikatan suci jikalau kisah kebersamaan kita semudah itu menyentuh sebuah akhir.

 

# Maukah Kamu Mencocokan Diri Denganku Hingga Tua?

 

Harapanku di akhir tulisan, berkenankah kamu menjadi pendamping membangun masa depan bersamaku?

 

Aku bersedia membangun dan mendampingimu dari nol ataupun suatu saat keadaan menguji kebersamaan kita pada posisi titik nadir. Meski membuatku menangis, ku tetapkan hati untuk mempercayai bahwa kita bisa bangkit bersama.

 

Relakah kamu menjadi Ayah dari buah cinta kita? Menjadi sosok yang menopang para penerus kita. Memberi inspirasi dan pendidik yang mendewasakan mereka. Menjadikan mereka cahaya dan penyemangat agar kita hidup dalam taraf mampu menyejahterakan.

 

Lelakiku, maukah kamu membersamaiku hingga ke surga?




Komentar Artikel "Ku Tuliskan Harapan Ini Untuk Suamiku (Nanti)"